Bandar Lampung, Sinar Lampung News.Com - Nama Aburizal Bakrie telah menjadi sinonim dengan kekuatan ekonomi dan pengaruh politik di Indonesia selama beberapa dekade. Pria yang akrab disapa Ical atau ARB ini bukan sekadar pengusaha biasa; ia adalah sosok yang pernah berada di puncak tertinggi daftar orang terkaya, melampaui taipan-taipan besar di kawasan regional.
Bagaimana perjalanan seorang mahasiswa Teknik Elektro menjadi raja bisnis Asia Tenggara? Berikut adalah napak tilas perjalanannya.
Akar dari Lampung, Tempaan dari Bandung
Lahir di Jakarta pada 15 November 1946, darah wirausaha Aburizal mengalir dari ayahnya, Achmad Bakrie, yang merintis usaha dagang hasil bumi di Lampung sejak tahun 1942. Namun, Ical tidak langsung terjun ke dunia bisnis. Ia memilih menempuh jalur akademis di Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB).
Di kampus Ganesha, Ical tidak hanya belajar rumus listrik. Ia aktif dalam organisasi mahasiswa, menjabat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa ITB, hingga menjadi salah satu pendiri Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Jaringan dan mental kepemimpinan yang terbentuk di ITB inilah yang menjadi modal dasarnya saat lulus pada tahun 1973.
Membangun Imperium: Dari Kopi ke Tambang dan Media
Setelah lulus, Ical memilih fokus mengembangkan perusahaan keluarga, PT Bakrie & Brothers. Di bawah kepemimpinannya sejak tahun 1992, Kelompok Usaha Bakrie melakukan ekspansi besar-besaran yang agresif.
Tak lagi hanya bermain di sektor perkebunan, Bakrie Group merambah ke industri strategis lainnya:
Pertambangan: Melalui raksasa batubara PT Bumi Resources Tbk.
Infrastruktur & Baja: Menjadi pemain utama dalam pembangunan nasional.
Telekomunikasi & Media: Mendirikan stasiun televisi hingga investasi di platform teknologi global.
Puncaknya terjadi pada tahun 2007-2008. Majalah Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya di Indonesia, dan Globe Asia bahkan menasbihkannya sebagai Orang Terkaya di Asia Tenggara dengan kekayaan bersih mencapai USD 9,2 miliar (sekitar Rp 84,6 triliun saat itu). Namanya kala itu berada di atas Robert Kuok (Malaysia) dan Ng Teng Fong (Singapura).
Menyeberang ke Panggung Politik
Keberhasilannya di dunia bisnis menjadi batu loncatan menuju pengabdian publik. Ical dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum KADIN selama dua periode sebelum akhirnya dipanggil masuk ke dalam kabinet pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia mengemban jabatan strategis sebagai Menko Perekonomian (2004-2005) dan kemudian Menko Kesra (2005-2009). Puncak karier politiknya ditandai dengan terpilihnya ia sebagai Ketua Umum Partai Golkar (2009-2014), di mana ia memperkenalkan "Visi Indonesia 2045" sebagai panduan negara menuju kesejahteraan.
Menghadapi Badai dan Kontroversi
Perjalanan sang maestro tidak selalu mulus. Krisis keuangan global tahun 2008 memberikan hantaman keras pada harga komoditas batubara, yang menyebabkan peringkat kekayaannya merosot tajam. Di dalam negeri, ia juga harus menghadapi badai kontroversi terkait tragedi lumpur Sidoarjo melalui PT Lapindo Brantas.
Meski diterpa berbagai isu, Aburizal Bakrie tetap menunjukkan ketahanannya sebagai pemain kunci di Indonesia. Baginya, jatuh bangun adalah bagian dari dinamika bisnis dan politik yang tak terpisahkan. (Red/Yudi.W)
Social Header